GELIAT POLITIKUS BUSUK DUDUKI KURSI DPRD LEMBATA
Pemilu tinggal setahun lag,partai- partai peserta pemilu sudah ambil kuda-kuda. Geriliya politik dan permen politik sudah menyusup kepelosok-pelosok desa. Obral janji dan obral tampang terjual murah disudut-sudut dusun. Ada yang demi pemilu relah tinggalkan jabatan dan status sebagai pegawai negeri. Sekilas ada pertanyaan yang menghantui pikiran saya,sebenarnaya apa orientasi mereka untuk menjadi calon legislative? Sekedar ikut ramai atau sungguh-sungguh ingin merobah citra DPR yang mulai rusak dari hulu sampai kehilir? Ataukah untuk memperbaiki ekonomi keluarga?
Pada zaman ini menghalalkan segala cara untuk kepentingan peribadi adalah hal biasa. Manipulasi menyusup masuk diantara celah nilai, gagasan dan opini. Manipulasi adalah tindak kekerasan karena menggunakan strategi mengurangi kebebasan agar pendengar atau pembaca tidak mendiskusikan atau melawan apa yang dikomunikasikan (Breton,2000,24). Manipulasi masuk kejalan pikir seseorang untuk meletakan opini atau menciptakan kesan sesuai yang diharapkan oleh pelaku manipulasi. Pelaku manipulasi selalu sembunyi di balik kalimat-kalimat kabur dengan kata-kata yang tidak pasti. Informasi yang disampaikan terpenggal-penggal atau ditambah agar sesuai dengan kepentingan pelaku. Realitas dikesampingkan untuk mengobok-obok perasaan dan pikiran pendengarnya. (Jarcues Ellul).
Pendengar, pembaca dan rakyat terlebih yamg hidup didusun diposisikan sebagai mahkluk-makhluk bodoh apalagi ditamba dengan tekanan kekuasaan maka komunikasi macam itu diterima sebagai kebenaran. Namun dizaman demokrasi ini manipulasi mendapat perlawanan kritis dan cibiran. Omongan politisi tidak dihiraukan, penjelasan wakil rakyat dianggap angin lalu mesikipun mereka telah berusaha keras melakukan propaganda dan membangun komunikasi dengan rakyat namun citra politisi dan wakil rakyat tetap jeblok. Hal ini karena rakyat berani bertindak kritis dan media massa adalah aktor utama yang menjadikan rakyat terus mengikuti perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. Sebagai sarana informasi, media massa menceriterakan politik dan kekuasaan sebagai gerombolan pembohong. Kekuasaan tidak lagi memaksakan kehendak. Bahkan informasi atau realitas yang mereka sampaikan acapkali tetap dianggap bohong, terlebi-lebih kalimat yang mereka bangun bersifat formal tanpa argumentasi yang tidak masuk akal.
Era reformasi bersama otonomi Lembata hadir bersama kemelut, orang –orang terburu - buru merebut kursi. Sikut demi-sikut bersentuhan dan kursi yang didudukinya menimbulkan gundah. Kata-kata dirangkai indah dengan lidah yang meliuk - liuk walaupun dilain hari diganti dengan tindakan yang menyakitkan. Pamong praja lebih suka menyimpan uang Negara lalu memetik bunganya, sementara orang –orang tidak pernah berhenti bekerja dengan hasil yang terus anjlok. Hutan-hutan digunduli, tanah digusur lalu hasinya ditimbun dinegeri asing. Anak –anak bumi putera memungut sisa-sisanya seraya menunduk bagai budak. Hukum berangsur bagai rumah pelacur. Hakim dengan pengecara bersekongkol menjadi muchikari. Berita jadi amarah, gedung-gedung gemerlap dan rumah rumah remang-ramang tumbuh bertebaran karena birahi sinting. Kothbah dari mimbar sekedar kembalikan alam pikiran manusia saat ini hanya celoteh yang hanya mengurangi letih.
Perilaku para politisi yang memperihatinkan, membuat masyarakat semakin resah. Keresahan rakyat kian sempurna ketika menyaksikan pentas politik ibarat panggung sandiwara. Masing –masing pelaku memaikan peran lelucon yang menggelikan. Dunia politik ibarat gerbong lokomotiv, dapat melaju dengan cepat tetapi meninggalkan kepul asap hitam disepanjang jalan yang dilalui baik secara ekonomi maupun status sosial.
Seorang teman saya pernah bilang “jangan percaya sama politikus! “ Apa yang dikatakan seorang politikus itu, tak ada yang bisa dipegang, hari ini dia berkata “jangan”, nanti siang dia sudah katakan “silahkan”! Sejam yang lalu dia menjelek-jelekan si “A”, sejam kemudian dia telah berangkul-rangkul, bercanda ria dan makan bersama diwarung bambu. Itulah politikus, jika bicara “Ya!”, sebetulnya “Tidak!”. JIka bicara “Tidak!” sebetulnya “Ya!” Sepintas pesan teman saya itu nampak berlebihan dan terkesan sangat antipati dengan politikus, maklum rekan saya mantan seorang aktivis. Saya sendiripun tidak tahu persis apakah saat rekan saya bicara seperti itu karena ia sedang didzalimi oleh teman-teman sejawatnya. Atau karena memang ia tengah membeberkan bagaimana cara kerja dan cara berpikir seorang politikus yang sebenarnya. Mungkin, bisa jadi, teman saya bicara seperti itu karena ia tidak mau saya ikut-ikutan terjun kekancah politik, atau Karena tidak diberi peluang sebagai kaum muda untuk menduduki kesempatan berekspresi. Karena usia saya waktu itu masih belasan tahun maka pesan tersebut hanya masuk telinga kanan lalu keluar lewat sebelah kiri. Ketika saya duduk di bangku kuliah, dalam sebuah diskusi ada beberapa orang dosen yang mengajar saya, juga memberikan sejumlah nasihat kepada para mahasiswanya agar jangan terjun kedunia politik. Alasannya karena politik itu kotor. Kepada kami diceritkan bagaimana perilaku para politikus yang sering menyikut, menyikat dan terkadang menginjak orang-orang didalam parpolnya sendiri yang dipandang sebagai musuh-musuhnya. Bahkan, kata dosen saya seorang politikus dapat berubah menjadi pembunuh kalau sudah berkaitan dengan kepentingannya untuk duduk disebuah jabatan. “Kalau keinginannya untuk duduk dalam sebuah jabatan dijegal oleh orang lain, maka dampaknya bakal terjadi pertumpaan darah. Itulah makanya dunia politik itu dikatakan kotor!” ujar dosen saya. Benar atau tidak, mari kita refleksikan. Pada kesempatan lain, dalam sebuah kothbah digereja juga pernah seorang pastor menyampaikan pesan yang sama. Menurutnya, aktivitas didunia politik itu banyak dosanya ketimbang amal. Untuk memperkuat larangannya itu, sang pastorpun membeberkan sejumlah realitas politik yang ada disekitarnya. “Cobah anda lihat, bagaimana sikap para politikus itu ketika dia belum menjadi penguasa. Setiap hari ia nempel terus sama rakyat, dengan harapan suaranya bisa diraih. Kemana-mana , selalu obral janji. Kalau terpilih nanti ia akan buat inilah, itulah. Pokoknya enak didengar dikuping. Tapi,begitu ia sudah duduk dikursi dewan, lupalah semua yang pernah dikatakan kepada masyarakat. Jangankan mau memenuhi janji, memberikan sedikit waktu untuk mendengarkan suara masyarakat yang telah memeilihnya menjadi penguasa, mereka berlagak sibuk. Seorang pemimpin harus meneladani Yesus yang datang sebagai guru, nabi dan raja bukan untuk dilayani melainkan melayani dan relah membasuh kaki para muridnya”. Tegas sang pastor.
Begitu zaman berputar kencang, banyak sekali penguasa yang selama ini ngecap doang, mulai bergelimpangan dengan sukes. Bahkan ada yang sampai stroke, karena belum sempat memperkaya diri. Maka, ruwetlah jalan hidup mereka. Keruwetan itu makin menjadi-jadi setelah setiap hari mereka disodori sejumlah rekening tagihan kredit yang belum lunas. Karena bingung bagaimana caranya untuk membayar tagihan tersebut, maka jadilah mereka terkena penyakit stroke. Itu menurut media massa.
Belajar dari pengelaman nasip para pejabat dan politikus itulah, nampaknya saat Ini banyak pejabat berlomba-lomba memperkaya diri sendiri. Tak perduli apakah cara –cara yang mereka tempuh itu bakal melukai hati rakyat, yang penting, tujuan untuk memperkaya diri bisa tercapai. Persoalan etis tidak etis, itu tak penting. “Memangnya etis bisa dimakan”?, ujar mereka. Yang penting, bisa mengumpulkan uang sebanyak bayaknya, sehingga ketika tidak jadi pejabat, bisa buka usaha. Bahkan tak sedikit para pejabat ada yang menyatakan : ” Kalau anda ingin makan etis silahkan! Saya lebi suka makan uang saja!”
Karena perilaku pejabat terkadang seperti yang tertulis diatas, maka tak heran jika dalam pergaulan dipanggung politikpun sangat jauh dari yang diharapkan oleh masyarakat. Dalam kondisi seperti itulah amat wajar jika masyarakat selalu menyeruhkan perluh ditegakkan moralitas perpolitikan di bumi pertiwi ini. Bagaimana mungkin moralitas dapat ditegakan, kalau setiap hari dibatok kepala mereka hanya uang dan uang. Dan bagaimana mereka bisa memberi contoh yang baik pada rakyat jika setiap kali bersidang, mereka selalu menebar api kebencian dan buruk sangka, terhadap sesama anggota sidang sehingga kebijakan yang diambil mereka, jauh dari harapan masyarakat. Faktor inilah yang yang menjadi penyebab tumbuh suburnya budaya korupsi, kolusi dan nepotisme dikalangan elite politik kita. Hal itu yang menjadikan kabupaten lembata masih tetap menderita luka lama. Program peningkatan air, jalan dan listrik tidak berjalan walaupun pada saat PILKADA menjadi program unggulan untuk menata bumi ikan paus lima tahun kedepan. Jumlah kemiskinan dan penganguran terus bertmbah dari tahun ketahun sementara upaya untuk pemberantasan agak sulit dilakukan karena kaum marginal hanya dapat disebut bila ada pemilihan umum. Bukan Cuma miskin, tetapi gagal panen dan gizi buruk tetap menjadi ikon kabupaten lembata. Belakangan ini saya baru tahu. Ternyata, pesan yang pernah disampaikan oleh teman saya, dosen dan pastor dulu ada benarnya juga. Jangan sekali-kali kita memberikan kepercayaan kepada seorang politikus, sebab kebanyakan omongan mereka sulit dipercaya. Sekarang mereka mengecam para koruptor, lima menit kemudian mereka malah mengunyah uang para koruptor itu. Sejam yang lalu menghujat para pelaku dan penerima suap, lima menit kemudian dia malah minta disuapi oleh para kroninya. Untuk itu saya mengajak seluruh masyarakat mari kita doakan saja, mudah-mudahan Tuhan masi berkenan menyuapi mereka dengan Roh kudus, agar segera bertobat dan kembali kejalan yang benar.
Jika dicermati sejarah perjalanan republik ini, pasti kita temukan banyak sekali catatan buram tentang perilaku buruk para pejabat dan elite politik kita. Anehnya dari masa kemasa, selalu saja sama, yakni mayoritas para pejabat kita paling pandai bicara, tetapi tak mampu dalam bertindak. Coba saja kita cermati bagaimana sikap para elite politik dan pejabat kita pada saat merespon fenomena korupsi, kolusi dan nepotisme yang telah diatur dalam undang-undang. Diberbagai forum dan dalam berbagai kesempatan, mereka tak henti-hentinya berteriak ganyang korupsi hingga mulut berbusa. Tetapi pada kesempatan lain, sepak terjang mereka dalam mencaplok uang rakyat, ternyata tak kala dahsyatnya dengan perilaku yang ingin mereka ganyang itu sendiri. Begitu juga ketika mereka menggerahkan semua elemen penegak hukum untuk memberantas peraktek kolusi dan nepotisme. Pada saat yang bersamaan, justeru mereka makin mencengkramkan kuku-kuku kolusi dan nepotismenya disepanjang jalan yang telah mereka lalui. Walhasil, disepanjang jalan jalan tersebut –dari hulu ke hilir –banyak dipenuhi oleh jaring-jaring korupsi, kolusi dan nepotisme baru hasil bentukan mereka sendiri.
Ketika persoalan itu diketahui publik dan diekspose media massa, maka mereka cepat-cepat cari selamat dengan cara mencuci tangan dan berusaha mencari kambing hitam. Ujung –ujungnya yang mereka salahkan adalah pihak pers. Media massa yang selalu menjadi guru bagi para pembaca dituding telah menyajikan berita yang tidak benar. Atau kalau tidak, mereka bakal menuding ada kelompok yang jadi rival politiknya sengaja menyebar fitnah untuk mencari dukungan bahkan mereka langsung memvonis bahwa ada sekelompok masyarakat yang bermaksud ingin memutarbalikan fakta dengan cara menyebar informasi yamg tidak benar dan berdasar. Padahal mereka sedang memutar balikan fakta. Licik memang! Tetapi begitulah kenyataannya.Tidak adanya sinkronisasi antara setiap kata dan perbuatan mereka terlihat sangat mencolok ketika menyikapi masyala kemiskinan, pengangguran dan gizi buruk yang tetap menjadi ikon lembata. Disaat ekonomi masyarakat yang mulai kembang kempis dengan gagal panen, dari atas podium mereka mencanangkan polah hidup hemat dan menjauhi pemborsan, tiba-tiba dikoran, radio dan televisi tersiar berita. Kepala daerah dan rombongan melakukan kunjungan keluar daerah untuk beberapa hari. Biaya kunjungan tersebut diperkirakan jutaan rupiah . Mendengar berita itu, rakyatpun jadi sesak napas. Selang beberapa menit kemudian terdengar kabar ada sejumlah anggota dewan minta uang rokok dari para kontraktor. Lalu reaksi rakyat bagaimana? “Sambil mengelus dada dan berucap anak saya terpaksa berhanti sekolah karena biaya mahal, kami butuh jalan,air dan listrik serta kami butuh makanan bergizi karena menurut ibu bides anak saya kurang gizi”
Dogel Blazt.
Mahasiswa Fakultas Hukum Unika Widya Karya Malang.
Devisi Penerbitan Dan Pers PMKRI Cabang Malang.
Hotline: 0341566659
Jln: Mayjend Panjaitan No 22A Malang – Jatim
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar