Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Malang Sanctus Augustinus mengadakan Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) gelombang kedua periode 2007- 2008 yang diadakan pada hari Sabtu-Minggu 28-29 Juli 2008 yang bertempat di Margasiswa PMKRI jalan Mayjend Pandjaitan 22A. Upacara pembukaan kegiatan ini dipimpin oleh Sekretaris Jendral PMKRI Karel K. Arisma karena ketua presidium PMKRI cabang Malang Vincensius Alien Seto berhalangan hadir karena ada urusan keluarga mendadak. Dalam sambutan Arisma mengatakan bahwa PMKRI sebagai Organisasi Pembinaan dengan semboyan tiga benang merah yaitu intelektualitas, katoliksitas dan fraternitas merasa terpanggil untuk menjawab tantangan krisis kader yang sedang dialami oleh Gereja dan Negara saat ini.
Kegiatan MPAB kali ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi (PT) se-kota Malang yang terdiri dari 17 orang sangat diharapkan dapat menjadi kader yang siap berjuang dengan terlibat bersama rakyat ter tindas. Dengan mengikuti pesan Yesus …” barang siapa yang mau mengikuti Aku, harus memikul salibnya, PMKRI sebagai organisasi Mahasiswa Katolik akan berjuang untuk membela Gereja dan Negara sampai titik darah terakir. ” ujar Arisma.
Sementara ketua panitia penyelenggara MPAB PMKRI Dogel Blazt, ditempat yang sama mengatakan, dengan mengusung tema “ Membangun Kader berjiwa Intelektual yang militant” akan memberikan nilai plus kepada para peserta. Hal ini dapat terbukti dengan sejumlah materi dasar yaitu: Visi dan misi PMKRI, metode jaringan dan gerakan PMKRI, tradisi dan simbol PMKRI, public speaking, managemen forum, managemen konflik, dan dasar- dasar jurnalistik. Untuk itu PMKRI ibarat mutiara yang terpendam didasar laut, kita akan memperolehnya tetapi harus siap untuk mengambil resiko untuk berenang, hanyut dan tenggelam. Dari sejumlah materi tersebut kiranya merupakan kado istimewa bagi peserta ketika kembali dan hidup bersama masyarakat, lanjut Blazt yang adalah mahasiswa fakultas hukum Unika Widya Karya. “Saya mengajak teman-teman peserta MPAB mengingat kembali pesan moral yamg disampaikan oleh Alm Mgr. Sugiopranoto yang mengatakan kepada semua kita orang katolik untuk 100 % katolik dan 100% Indonesia. Sesungunya ilmu pengetahuan tidak saja diperoleh melalui ceramah dosen tetapi dengan membuka diri untuk terlibat dalam organisasi. Di dunia ini tidak ada yangabadi, ijasahmu akan muda rusak dan musnah, satu-satunya yang tidak perna musnah adalah karakter seseorang, dia akan tetap hidup dihati rakyat walaupun kamu sudah mati.
Vandry Battu, wartawan Malang pos yang juga adalah mantan ketua PMKRI Cabang Malang dalam materi dasar-dasar journalist membagi ilmunya dengan metode tanya jawab. Suasana lebih hidup lagi saat moderator Alfons Rahmat memberikan waktu seluas-luasnya bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan. Karena diberikan waktu yang luas, peserta saling berebutan mengajukan pertanyaan untuk mengorek lebih jauh tentang; teknik mencari, menulis, dan mengirim berita juga cara bagaimana menghadapi nara sumber yang pelit memberikan informasi.
Sementara untuk matode jaringan dan gerakan PMKRI yang dibawakan oleh Emanuel Yuswantoro( Boim, red) lebih lengkap menjelaskan tentang bagaimana matode jaringan dan gerakan. PMKRI adalah organisasi massa yang memiliki banyak jaringan baik ditingkat lokal maupun tingkat nasional dan juga internasional. “Untuk melakukan pegerakan, PMKRI selalu melakukan diskusi rutin tentang berbagai problem sosial masyarakat. Dengan semboyan berjuang sambil terlibat, PMKRI sangat peka dengan masalah sosial, menemukan masalah, melakukan diskusi dan melakukan kajian pustaka adalah ciri PMKRI dan selanjutnya dituangkan menjadi tulisan untuk dipublikasikan melalui media.
Menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh Willy (mahasiswa asal Kalimantan yang saat ini kuliah di Universitas Kanjuruhan) bahwa apakah dengan melakukan demonstrasi merupakan satu-satunya jalan untuk perjuangkan kepentingan kaum marginal? Dengan mantap mas Boim yang juga mantan aktivis PMKRI angkatan 1998 atau pejuang reformasi mengatakan bahwa demonstrasi hanya pilihan terahkir untuk menyampaikan aspirasi.
“ Saat ini pemerintah atau pengambil kebijakan di Negara ini urat malunya sudah putus, untuk itu, bukan tidak mungkin dengan turun kejalan akan membuka mata hati mereka (baca pejabat) untuk melihat problem kemiskinan dan penganguran yang terus meningkat. Tidak dapat kita pungkiri bahwa dengan aksi turun jalan dapat menentukan arah kemana pertiwi ini berkiblat. Indonesia merdeka tidak terlepas dari aksi pemuda dan mahasiswa, Soekarno jatuh juga karena demo mahasiswa, sampai dengan runtuhnya kekuasaan rezim Soeharto juga karena demo Mahasiswa. Karena itu, menjadi mahasiswa adalah kenangan terindah dan tak dilupakan. Satu hal yang perlu diingat bahwa bagi aktivis mahasiswa selalu takut sama dosen, dosen takut sama pemeritah, pemerintah takut sama aktivis mahasiswa,“ tegas wartawan SINDO tersebut.
Sementara itu, pada hari Minggu 29 Juli 2008 peserta disugukan materi public speaking yang dibawakan oleh panitia dan pengurus DPC PMKRI, mencakub beberapa poin yaitu, teknik memimpin rapat, teknik berbicara diforum. Acara ini lebih seruh karena setiap peserta diwajibkan untuk praktek lansung dan harus bisa. Yustina Bilu Miku, mahasiswa fakultas teknologi hasil peternakan Universitas Tribuwana Tunggadewi kepada media ini menyampaikan bahwa “ dengan bergabung bersama PMKRI walaupun baru 2 hari tetapi ia merasa bangga menjadi anggota PMKRI, ada banyak yang saya dapat dari PMKRI ini adalah sala satu bekal saya disamping gelar keserjanaan yang sedang dalam proses, ujar Tini. Berbeda dengan Yosep Sanga Blikololong, seorang peserta yang datang dari IKIP Budi Utomo, punya kesan bahwa, disamping tertarik dengan organisasi PMKRI juga sangat terpikat dengan materi tentang dasar-dasar journalistik. “ Saya sangat tertarik dengan materi dasar-dasar jornalistik karena saat ini saya kuliah dengan mengambil jurusan Bahasa Dan Sartra Indonesia sehingga hal ini menjadi modal saya untuk mengikuti kuliah bidang studi journalistik,” kesannya.
Kegiatan MPAB PMKRI tidak saja bernuansa ilmiah tetapi ada nuansa rohaniah yaitu upacara ekaristi bersama yang dipimpinoleh Rm. Wigno. O.carm dalam kotbahnya beliau berpesan bagi semua anggota dan calon anggota PMKRI untuk tetap konsisten pada garis perjuangan PMKRI dan tidak boleh kehilangan nilai-nilai kekristenan.
Acara penutupan MPAB diakhiri oleh pelantikan anggota baru oleh sekretaris jendral PMKRI cabang Malang dengan surat keputusan No 09/ DPC /Kep / VI / 08 memutuskan dan menetapkan tujuh belas peserta MPAB sah menjadi anggota.(Blaz)
1 komentar:
Selamat dan sukses atas penerbitan WWW.parkiranwk.blogspt.com, semoga sukses selalu.
Posting Komentar